Selamat Datang di Blog Resmi IKARUS Yogyakarta

Menu

Jumat, 27 April 2012

Sejarah Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Sakatiga Sumatra Selatan


A.  Sejarah dan Perkembangan PPRU

Sejarah perkembangan Pondok Pesantren Raudhatul Ulum (PPRU) Sakatiga dari embrio hingga keberadaannya saat ini, melalui 3 ( tiga ) fase sebagai berikut :

1.   Era Cikal Bakal ( 1930 -1950 M )

Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Sakatiga merupakan salah satu pesantren yang cukup terkenal dan tersohor dikalangan masyarakat propinsi Sumatera Selatan. Pesantren ini merupakan estafet dari dua madrasah di desa Sakatiga sebelum zaman kemerdekaan Republik Indonesia. Madrasah Al-Falah dan Al-Shibyan  merupakan cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren        Raudhatul Ulum.





a.   Madrasah Al-Falah

Madrasah ini didirikan Oleh KH. Bahri bin Bunga pada tanggal 15 syawal 1348 H atau tahun 1930 M yang kemudian diteruskan oleh putra beliau KH. Abdul Ghanie Bahri. Madrasah ini banyak menghasilkan tokoh agama dan pemuka masyarakat yang tersebar di wilayah Sumatera Selatan dan Negara Republik Indonesia.



b.   Madrsah Al-Shibyan.

Pelopor berdirinya madrasah ini adalah seorang ulama besar di Propinsi Sumatera Selatan yaitu KH. Abd. Rahim Mandung dan KH. Abdullah Kenalim yang dirintisnya pada tahun 1936 M., 9 tahun sebelum Republik Indonesia diproklamasikan.  Hidup dalam masa pergolakan kedua madrasah ini  harus berhadapan dengan bermacam-macam tantangan dan hambatan khususnya dari pihak penjajah.



2.  Era Lanjutan Perjuangan ( 1950-1986 M )

Tahun 1950 kesepakatan tokoh-tokoh masyarakat Sakatiga Inderalaya, propinsi Sumatera Selatan dibentuklah satu panitia khusus untuk melanjutkan dan menghidupkan kembali usaha-usaha yang pernah dirintis oleh madrasah Al-Falah dan Al-Shibyan sebelumnya.  Tanggal 1 Agustus 1950 panitia tersebut menyepakati untuk mendirikan lembaga pendidikan formal yang diberi nama Sekolah Rakyat Islam Nahdatul Ulama (NU) lalu berubah nama menjadi Sekolah Rakyat Islam (SRI), yang didalamnya mencakup Sekolah Menengah Agama Islam (SMAI) atau setara madrasah tsanawiyah, dari kedua nama ini (SRI dan SMAI) kemudian disederhanakan lagi menjadi sebuah lembaga yang bernama : Perguruan Islam Raudhatul Ulum Sakatiga (PIRUS) dan nama ini sekaligus dijadikan nama Yayasan Perguruan Islam Raudhatul Ulum Sakatiga (YAPIRUS) dengan Akte Notaris Aminus Palembang No. 21.A 1966. Dibawah YAPIRUS ini mulai diperjelas status/tingkatan pendidikan yang ada menjadi 4 ( Empat ) jenjang pendidikan formal   yaitu :

1.   Madrasah Tahdhiriyah ( TL )    

Madrasah Tahdhiriyah merupakan madrasah yang paling dasar atau tingkatan paling rendah dalam kelembagaan ini.

2.   Madrasah Ibtidaiyah ( MI )

Madrasah Ibtidaiyah adalah madrasah lanjutan dari madrasah Tahdhiriyah. Madrasah ini terus tumbuh dan berkembang   sehingga dikenal oleh masyarakat sebagai madrasah yang  berhasil dalam membina santri/anak didiknya, selama menjalankan masa pendidikannya, santri dan santriwati diberikan pelajaran dengan metode yang variatif dan   berkesinambungan  oleh para pendidik, pengasuh dan juga para kyai senior. Mereka ditanamkan pembinaan akhlaq karimah, wawasan keislaman dan ilmu-ilmu umum serta berbagai keterampilan.

Prestasi yang mengembirakan disambutan hangat oleh pihak pemerintah, yang ditandai dengan PIAGAM PENDIDIKAN yang diberikan kepada madrasah ibtidaiyah oleh Jawatan Pendidikan Agama Jakarta pada tahun 1960.  Madrasah Ibtidaiyah resmi didirikan pada tanggal : 1 Agustus 1950 M  dengan No : 12 tahun 1945 jo.  No : 4    tahun 1950 pasal 10 ayat 2.

3.   Madrasah Tsanawiyah ( MTs)

Madrasah Tsnawiyah (MTs) ditempuh dalam kurang waktu 3 (tiga) tahun. Madrasah Tsnawiyah ini berdiri tanggal 1 Oktober 1957, dan mendapatkan piagam pendidikan madrasah tingkat tsanawiyah dengan nomor : D.6.307.111.88 dan NSM : 212160212007.

4.   Madrasah Aliyah ( MA )

Madrasah Aliyah (MA) berdiri tepatnya pada tanggal : 25 Oktober 1957, mendapatkan piagam pendidikan madrasah tingkat aliyah dengan dengan nomor : NPT W F 6.4.07.017.88 dan NSM : 312160212018.

Era kedua ini (1950-1986 M) madrasah telah menunjukkan kemajuan yang mengembirakan baik fisik maupun nonfisik. Hal ini didukung oleh data statistik jumlah siswa tahun 1967 yang mencapai 911 orang yang berasal dari berbagai penjuru Sumatera bagian Selatan dan daerah sekitarnya.



   3.    Era Penyempurnaan Dan Pengembangan (1986 s.d Sekarang)

Meninggalnya pimpinan pondok pesantren Raudhatul Ulum Sakatiga, KH. Abdullah Kenalim pada tahun 1984, terjadi kevakuman kepemimpinan untuk melanjutkan perjuangan para pendahulunya.  Tanggal 8 Agustus 1986 melalui musyawarah YAPIRUS Sakatiga menetapkan pimpinan (mudir) baru Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Sakatiga adalah Al-Ustadz KH. Tol’at Wafa Ahmad, Lc.,  yang baru kembali dari tempat tugasnya di Jakarta untuk melanjutkan perjuangan. Beberapa langkah kebijakan yang dilakukan antara lain:
Membenahi stuktur keorganisasian yang ada di lingkungan Pondok Pesantren.
Meninjau kembali kurikulum yang berlaku sebelumnya dan menyempurnakan dengan sistem terpadu antara kurikulum pondok modern Gontor, pondok Darussalam Jakarta dan Ma’ahid Islamiyah dalam dan luar negeri serta kurikulum Departemen Agama dan Dinas Pendidikan Nasional.
c.       Menyempurnakan nama pondok yang semula bernama “Pondok Pesantren Perguruan Islam Raudhatul Ulum Sakatiga” menjadi  “Pondok Pesantren Radhatul Ulum” atau lebih dikenal dengan sebutan  PPRU.

Selama kepemimpinan beliau  bertambah 1 (satu) jenjang pendidikan lagi, sehingga PPRU memiliki 5 (lima) jenjang pendidikan formal dan masing-masing diberikan nama sebutan khusus sesuai dengan hasil konsorsium pengurus PPRU, yaitu : TAKIRU (Taman Kanak-Kanak Islam Raudhatul Ulum), MIRU (Madrasah Ibtidaiyah Raudhatul Ulum), MATSARU (Madrasah Tsanawiyah Raudhatul Ulum),  MAKRU (Madrasah Aliyah Raudhatul Ulum) dan STAIRU (Sekolah Tinggi Agama Islam Raudhatul Ulum).

Tahun 2004 sampai sekarang kepemimpinan PPRU dipegang oleh KH. Abdul Karim Umar. Sekarang PPRU memiliki 9 (sembilan) lembaga pendidikan formal dengan penambahan SMP-IT RU (Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu Raudhatul Ulum), SMA-IT RU (Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu Raudhatul Ulum) dan MATQULARU (Madrasah Tahfidzul Qur’an Raudhatul Ulum),  sedangkan STAIRU  berubah nama menjadi STITRU    (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Raudhatul Ulum).

Penyempurnaan dan penataan di berbagai sektor terus dilakukan dengan penuh perencanaan dan terarah untuk menuju kualitas dan daya saing yang dicita-citakan, penyempurnaan-penyempurnaan itu sebagai berikut :
Menyempurnakan arti “Pondok Pesantren” itu sendiri yang sebelumnya santri/wati tidak diasramakan (madrasah lepas).  Tanggal 1 September 1986 dibukanya lokasi kampus A Pondok Pesantren Raudhatul Ulum dengan program awal   menempatkan para santri diasrama (boarding school), asrama pertama diberi nama asrama Abu Bakar As-Siddiq.
Mengupayakan penambahan asrama santri, ruang belajar, perpustakaan, masjid, dapur, sumber air bersih, MCK dan  lain-lain.
Menjalin hubungan dengan lembaga-lembaga pendidikan lain dan instansi-instansi untuk menjalin kerjasama, berkonsultasi, bantuan guru pendidik, membeli buku-buku pelajaran dan bertukar informasi.
Menghimpun tenaga-tenaga pembina, pendidik yang            profesional dan terampil serta berjiwa pejuang yang ikhlas dari jajaran generasi tua maupun generasi muda.
Menjadikan pesantren sebagai pusat dakwah islamiyah dengan membuka pengajian untuk masyarakat di lingkungan pondok dan mengadakan Bi’tsah Ad-dakwah (mengutus da’i-da’i) kedaerah-daerah pedesaan dengan melibatkan para asatidzah (guru-guru) dan santri-santri senior.
Mengupayakan dana untuk kelangsungan hidup pondok dari swadaya murni, sumber-sumber yang halal dan tidak mengikat.

Alhamdulillah semenjak diterapkan sistem pondok pesantren secara utuh (boarding school), ketertarikan masyarakat semakin tumbuh, perhatian dan dukungan moral serta material diberikan kepada pondok ini. Terbukti dengan meningkatnya kuantitas dan kualitas santri dari tahun ke tahun.



B. Kondisi Sosial Keagamaan Masyarakat di Sekitar Pesantren

Desa Sakatiga adalah sebuah desa yang terletak 40 km sebelah selatan kota Palembang, ibukota propinsi Sumatera Selatan. Jauh sebelum kemerdekaan RI desa ini dikenal dengan sebutan Mekkah Kecil, karena banyak  ulama yang berasal dari Sakatiga belajar ilmu  agama  Islam  di  kota  Mekkah.   Para ulama ini setelah  pulang  ke tanah air aktif mengajarkan dan menyebarluaskan agama Islam baik di desa Sakatiga sendiri bahkan meluas ke desa-desa lain dalam wilayah Sumatera Selatan. Aktifitas kegiatan belajar mengajar agama Islam ini di kalangan masyarakat  Sumatera Selatan dikenal dengan sebutan Cawisan.  Para Ulama aktif mengadakan cawisan-cawisan sehingga mereka tidak mampu lagi memenuhi permohonan masyarakat di banyak desa, untuk memenuhi keinginan besar masyarakat belajar ilmu agama para ulama mendirikan lembaga pendidikan Islam dalam bentuk madrasah-madrasah.  Para pelajar datang dari berbagai penjuru daerah menuntut ilmu. Dari madrasah ini lahirlah Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Sakatiga. Masyarakat desa Sakatiga senantiasa menghidupkan kegiatan-kegiatan keagamaan baik secara rutin maupun dalam acara hari-hari besar Islam, dengan senantiasa melibatkan para ustadz dan ustadzah dari PPRU untuk menjadi pembicara dalam sebuah kajian rutin dan ceramah-ceramah agama.

Sumber Informasi : Web Pondok Pesantren Raudhatul Ulum Sakatiga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar